Senin, 17 Maret 2008

Gangguan Mental

TINJAUAN PROSES KEPERAWATAN
Gangguan Skizofrenia
A. Pengkajian
1. Riwayat. Tinjau kembali riwayat klien untuk adanya stresor pencetus dan data yang signifikan.
· Kerentanan genetic-biologik (riwayat keluarga)
· Peristiwa hidup yang menimbulkan stress
· Hasil pemeriksaan status mental
· Riwayat psikiatrtik dan keptuhan terhdap pengobatan di masa lalu
· Riwayat pengobatan
· Penggunaan obat dan alkohol
· Riwayat pendidkkan dan pekerjaan
2. Kaji klien untuk adanya gejala-gejala karakteristik
Pertanyaan pengkajian keperawatan

PERTANYAAN



GEJALA UMUM SKIZOFRENIA

* Mengindikasikan gejala-gejala negatif

3. Kaji sistem pendukung keluarga dan komunitas
· Pengaturan hidup saat ini dan tingkat pengawasan
· Keterlibatan dan dukungan keluarga
· Manajer kasus atau ahli terapi
· Pertisipasi dalam program pengobatan komunitas
4. Kaji pengetahuan dasar klien dan keluarga. Kaji apakah klien dan keluarganya mempunyai pengetahuan yang cukup tentang :
· Gangguan skizofrenia
· Rekomendasi medikasi dan pengobatan
· Tanda-tanda kekambuhan
· Tindakan untuk mengurangi stres
5. Kaji klein untuk adanya efek samping medikasi antipsikotik
· Efek sistem pyramidal ( extrapyramidal system ;ESE,). Gunakan alat-alay tertentu, seperti skala AIMS atau skala neurological simpson, untuk melakukan pengkajian.
· Afek antikolinergik
· Efek kardiovaskuler

B. Diagnosis keperawatan
1. Analisis gejala positif dan negative
2. Analisis kekutan dan kelemahan klien, termasuk:
· Kemampuan mengurus diri
· Sosialisasi
· Komunikasi
· Menguji realitas
· Keterampilan pekerjaan
· Sistem pendukung
3. Analisis faktor-faktor yang meningkatkan resiko ekspresi perilaku yang tidak disadari, termasuk:
· Agitasi
· Marah
· Curiga
· Adanya halusinasi yang mengancam
4. Membentuk dan memprioritaskan diagnosis keperawatan bagi klien dan kelurganya.
· Harga diri rendah, kronis
· Koping keluarga tidak efektif : memburk
· Gangguan penetalaksaan pemeliaharan rumah
· Koping individu tidak efektif
· Kursng pengetshusn ( sebutkan)
· Penatalaksanaan tidak efektif progarm terapeutik : keluarga
· Penatalaksanaan tidak efektif progarm terapeutik : individu
· Ketidakpatuhan
· Perubahan kinerja peran
· Kurang perawatan diri ( sebutkan)
· Perubahan sensorik/persepsi: penglihatan, penedengaran , kinestetik, pengacapan, peraba, penciuman sebutkan)
· Perubahan proses berfikir
· Resiko kekerasan terhadap diri sendiri/orang lain.

C. Perencanaan dan identifikasi hasil
1. Tetapkan tujuan yang realistis bersama klien.
2. Tetapkan kriteria hasil yang diinginkan bagi klien dengan gangguna skizofrenia. Klien tersebut akan:
3. Tetapkan criteria hasil yang diinginkan bagi keluarga yang memilki anggota keluarga skizofrenia.

D. Implementasi
1. Kilen yang menarik diri dan isolasi
v Gunakan diri secara terapeutik.
v Lakukan interaksi yang terencana, singkat, sering dan tidak menuntut.
v Rencanakan kativitas sederhana satu-lawan-satu.
v Pertahankan konsistensi dan kejujuran dalam interaksi.
v Secara bertahap anjurkan klien untuk berinteraksi dengan teman-temannya dalam situasi yang tidak mengancam
v Berikan pelatihan keterampilan sosial.
v Lakukan berbagai tindakan untuk meningkatkan harga diri.
2. Klien menunjukkan perilaku regresif atau tidak wajar
v Lakukan pendekatan apa adanya terhadap perilaku aneh (jangan memperkuat perilaku ini).
v Perlakukan klien sebagai orangdewasa, waluapun ia mengalami regresi.
v Pantau pola makan klien; dan beri dukungan serta bantuan bila perlu.
v Bantu klien dalam hal higiene dan berdandan, hanya bila ia tidak dapat melakukannya sendiri.
v Berhati-hati dengan sentuhan karena dapat dianggap sebagai ancaman
v Buat jadwal rutin aktivitas hidup sehari-hari.
v Berikan pilhan sederhana dari dua hal bagi klien yang mengalami mabivalensi.
3. Klien dengan pola komunikasi tidak jelas
v Perthankan komunikasi anda sendiri agar tetap jelas dan tidak ambigu.
v Pertahankan konsistensi komunikasi verbal dan nonverbal anda.
v Klarifikasi setiapmakna yang ambigu atau tidak jelas berkaitan dengan komunikasi klien
4. Klien curiga dan kasar
v Bentuk hubungan profesional; terlalu ramah dapat diangap ancaman.
v Berhati-hati dengan sentuhan karena dapat dianggap sebagai ancaman.
v Berikan kontrol dan otonomi sebanyak mungkin kepada klien dalam batas-batas terapeutik.
v Ciptakan rasa percaya melalui interaksi singkat yang mengomunikasikan perhatian dan rasa hormat.
v Jalskan setiap pengobatan, medikasi dan pemeriksaan laboratorium sebelum memulainya.
v Jangan berfokus atau memperkuat ide curiga atau waham.
v Identifikasi dan berikan respons terhadap kebutuhan emosi yang mendasari kecurigaan atau waham.
v Lskuksn intervensi bila klien menunujjkan tanda-tanda peningkatan ansietas dan berpotensi mengkejspresikan perilaku yang tidak disadarinya.
v Berhati-hatilah untuk tidak berperilaku dengan cara yang dapat disalahartikan kilen.
5. Klien dengan halusinasi atau waham
v Jangan memfokuskan perhatian pada halusinasi atau waham. Lakukan interupsi terhadap halusinasi klien dengan memulai interaksi satu-lawan-satu yang didasarkan pada realitas.
v Katakan bahwa Anda tidak sependapat dengan persepsi klien, tetapi validasi bahwa anda percaya bahwa halusinasi tersebut nyata bagi klien.
v Jangan berargumentasi dengan klien tentang halusinasi atau waham.
v Berikan respons terhadap perasaan yang dikomunikasikan klien pada saat ia mengalami halusinasi atau waham.
v Alihkan dan fokuskan klien pada aktivitas yang terstruktur atau tugas berbasis realitas.
v Pindahkan klien ke tempat yang lebih tenang, yang kurang menstimulasi.
v Tunggu sampai klien tidak mengalami halusinasi atau waham sebelum memulai sesi penyuluhan tentang hal itu.
v Jelaskan bahwa halusinasi atau waham adalah gejala-gejala gangguan psikiatrik.
v Katakan bahwa ansietas atau peningkatan stimulus dari lingkungan, dapat menstimulasi timbulnya halusinasi.
v Bantu klien mengendalikan halusinasinya dengan berfokus pada realitas dan minum obat sesuai resep.
v Bila halusinasi tetap ada, Bantu klien untk mengabaikannya dan tetap bertindak dengan benar walaupun terjadi halusinasi.
v Ajarkan berbagai strategi kognitif dan katakan kepada klien untuk menggunakan percakapan diri (“suara-suara itu tidak masuk akal”) dan penghentian pikiran (“saya tidak akan memikirkan tentang hal ini”).
6. Klien dengan perilaku agitasi dan berpotensi melakukan kekerasan
v Observasi tanda-tanda awal agitasi; lakukan intervensi sebelum ia mulai mengekpresikan perilaku yang tidak disadarinya.
v Berikan lingkungan yang aman dan tenang; kurangi stimulus ketika klien mengalami agitasi.
v Jangan membalas klien bila klien berkata kasar; gunakan nada suara yang tenang. Berikan ruang pribadi dan hindari kontak fisik.
v Dorong klien untuk membicarakan, dan bukan melampiaskan perasaannya.
v Tawarkan obat seperlunya kepada klien yang mengalami agitasi.
v Isolasi klien dari lingkungan sosial klien bila agitasi meningkat.
v Tetapkan batasan-batasan perilaku yang tidak dapat diterima dan secara konsisten ikuti protokol institusi untk mengambil tindakan.
v Ikuti protokol institusi untuk menghadapi klien yang mengekspresikan perilaku yang tidak disadari.
v Pastikan bahwa semua anggota staf ada di tempat pada saat berupaya meredakan kekerasan yang dilakukan klien. Bila diperlukan restrein, laukan secara aman dan dengan sikap yang tidak menghukum, ikuti protokol dan berikan lingkungan yang aman.
7. Keluarga dari klien dengan gangguan skizofrenia
v Anjurkan setiap anggota keluarga untuk mendiskusikan perasaan dan kebutuhannya.
v Bantu keluarga mendefinisikan aturan-aturan dasar tentang menghormati privasi orang lain dan hidup bersama.
v Anjurkan setiap anggota keluarga untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
v Anjurkan setiap anggota keluarga untuk terlibat dalam kegiatan kelompok pendukung.
v Bantu setiap anggota keluarga untuk mengidentifikasi situasi yang menimbulkan ansietas dan menyusun rencana strategi koping yang spesifik.
v Ajarkan pada keluarga tentang penyakit skizofrenia dan penatalaksanaannya.
Penyuluhan keluarga yang anggota keluarganya menderita skizofrenia
1. Ajarkan pada keluarga tentang skizofrenia :
Skizofrenia adalah gangguan otak yang memengaruhi semua aspek fungsional.
Tidak ada penyebab tunggal yang telah ditetapkan, tetapi penelitian menunjukkan bahwa penyebabnya, antara lain genetika, perubahan struktur dan kimia otak, serta berbagai faktor yang berkaitan dengan stress.
Gejala-gejalanya dapat mencakup mendengar suara-suara (halusinasi), keyakinan yang keliru (waham), berkomunikasi dengan cara yang sulit dipahami, serta fungsi okupasi dan sosial yang buruk.
Gejala-gejala dapat membaik, tetapi dapat juga kambuh terus seumur hidup.
2. Ajarkan pada keluarga tentang :
Obat-obatan antipsikotik yang digunakan; penting bagi klien untuk meminumnya sesuai resep.
Efek samping yang banyak terjadi dan dapat diatasi bila segera dilaporkan ke penyedia layanan kesehatan. (Berikan informasi spesifik mengenai obat klien).
Menindaklanjuti perawatan dengan ahli terapi atau manajer perawatan merupakan hal yang sangat penting.
3. Ajarkan pada keluarga tentang cara-cara mengatasi gejala klien :
Identifikasi berbagai kejadian yang secara tipikal mengecewakan klien dan memberikan bantuan ekstra sesuai kebutuhan.
Catat kapan klien menjadi marah dan lakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi ansietas.
Tindakan untuk mengurangi ansietas meliputi istirahat, teknik-teknik relaksasi, keseimbangan antara istirahat dan aktivitas, dan diet yang tepat.
Catat gejala-gejala yang ditunjukkan klien ketika ia sakit, dan bila ini terjadi anjurkan klien untuk menghubungi penyedia layanan kesehatan (bila ia menolak, Anda harus menghubungi sendiri penyedia layanan kesehatan tersebut).
Tidak menyetujui pernyataan klien tentang halusinasi atau waham; beri tahu tentang realitas, tetapi jangan berargumentasi dengan klien.
4. Informasi tambahan :
Ajarkan kepada keluarga tentang perawatan diri.
Anjurkan keluarga untuk membicarakan tentang perasaan dan kekhawatiran mereka dengan penyedia layanan kesehatan.
Anjurkan keluarga untuk mau mempertimbangkan bergabung dengan kelompok pendukung atau bantuan masyarakat.

E. Evaluasi hasil
1. Klien mengidentifikasikan perasaan internalnya terhadap ansietas dan menggunakan tindakan koping yang sudah dipelajarinya untuk mengurangi ansietas.
2. Klien dapat menjaga hygiene dirinya.
3. Klien mengikuti jadwal rutin untuk aktivitas hidup sehari-hari.
4. Klien menunjukkan perilaku yang tepat dalam situasi sosial.
5. Klien berkomunikasi tanpa menunjukkan pemikiran disosiasi.
6. Klien membedakan antara pikiran da perasaan yang distimulasi dari dalam dirinya dan yang distimulasi dari luar.
7. Klien menunjukkan berkurangnya atau terkendalinya cara berpikir magis, waham, halusinasi dan ilusi.
8. Klien menunjukkan perbaikan interaksi sosial dengan orang lain.
9. Klien menunjukkan afek yang sesuai dengan perasaan, pikiran, dan situasi.
10. Klien menunjukkan berkurangnya perasaan curiga, negatif dan marah.
11. Klien mengidentifikasi aspek-aspek positif pada dirinya.
12. Anggota keluarga menggunakan strategi koping yang efektif untuk mengatasi situasi yang menimbulkan ansietas.
13. Klien berpartisipasi dalam rencana pengobatan dan mau menindaklanjuti program pengobatan di komunitas.
14. Klien dan keluarga menggunakan pengetahuan tentang gangguan, program pengobatan, medikasi, gejala-gejala dan penatalaksanaan krisis secara berkelanjutan.

Tidak ada komentar: