Senin, 17 Maret 2008

Psikoseksual

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
DENGAN MASALAH PSIKOSEKSUAL

Pengertian Psikoseksual
Seksualitas dalam arti yang luas ialah semua aspek badaniah, psikologik dan kebudayaan yang berhubungan langsung dengan seks dan hubungan seks manusia. Seksologi ialah ilmu yang mempelajari segala aspek ini. Seksualitas adalah keinginan untuk berhubungan, kehangatan, kemesraan dan cinta, termasuk di dalamnya memandang, berbicara, bergandengan tangan. Seksualitas mengandung arti yang luas bagi manusia, karena sejak manusia hadir ke muka bumi ini hal tersebut sudah menyertainya.
Dengan demikian, maka seks juga bio-psiko-sosial, karena itu pendidikan mengenai seks harus holistik pula. Bila dititikberatkan pada salah satu aspek saja, maka akan terjadi gangguan keseimbangan dalam hal ini pada individu atau pada masyarakat dalam jangka pendek atau jangka panjang, umpamanya hanya aspek biologi saja yang diperhatikan atau hanya aspek psikologik ataupun sosial saja yang dipertimbangkan.

Kita membedakan beberapa pengertian yang berkaitan dengan psikoseksual yang meliputi:
1. Sexual identity (identitas kelamin)
Identitas kelamin adalah kesadaran individu akan kelaki-lakiannya atau kewanitaan tubuhnya. Hal ini tergantung pada ciri-ciri seksual biologiknya, yaitu kromosom, genitalia interna dan eksterna, komposisi hormonal, tetstis dan ovaria serta ciri-ciri sex sekunder. Dalam perkembangan yang normal, maka pola ini bersatu padu sehingga seorang individu sejak umur 2 atau 3 tahun sudah tidak ragu-ragu lagi tentang jenis seksnya.

2. Gender identity (identitas jenis kelamin)
Identitas jenis kelamin atau kesadaran akan jenis kelamin kepribadiannya merupakan hasil isyarat dan petunjuk yang tak terhitung banyaknya dari pengalaman dengan anggota keluarga, guru, kawan, teman sekerja, dan dari fenomena kebudayaan. Identitas jenis kelamin dibentuk oleh ciri-ciri fisik yang diperoleh dari seks biologik yang saling berhubungan dengan suatu sistem rangsangan yang berbelit-belit, termasuk pemberian hadiah dan hukuman berkenaan dengan hal seks serta sebutan dan petunjuk orangtua mengenai jenis kelamin. Faktor kebudayaan dapat mengakibatkan konflik tentang identitas jenis kelamin dengan secara ikut-ikutan memberi cap maskulin atau feminim pada perilaku nonseksual tertentu. Umpamanya minat seorang anak laki-laki pada kesenian atau pakaian dicap feminin oleh orangtuanya dan mungkin ia sendiri sudah menganggap demikian. Seorang gadis yang suka olahraga, bersaing, dan berdiri sendiri menjadi ragu-ragu bila ia dicap maskulin.

3. Gender role behaviour (Perilaku peranan jenis kelamin)
Perilaku peranan jenis kelamin ialah semua yang dikatakan dan dilakukan seseorang yang menyatakan bahwa dirinya itu seorang pria atau wanita, meskipun faktor biologik penting dalam mencapai peranan yang sesuai dengan jenis kelaminnya, faktor utama ialah faktor belajar. Bila suami-istri menjadi tua, maka hubungan seks memegang peranan penting dalam mempertahankan kestabilan perkawinan. Dorongan seksual wanita meningkat antara umur 30-40 tahun dan orgasme dapat saja dicapai sampai pada usia tua. Seorang pria dapat melakukan aktivitas seksual sampai umur tua juga. Faktor paling penting dalam mempertahankan seksualitas yang efektif ialah ekspresi seksual yang aktif secara tetap.

Teori Psikoseksual
1. Menurut Teori Libido Freud
Insting seksual dalam perkembangannya dari masa kanak-kanak menjadi dewasa melalui beberapa fase: oral, anal, falik, dan genital. Tiap fase didominasi oleh semua organ somatik. Bila pada suatu fase tertentu tuntutan tidak dipenuhi secara wajar, maka terjadilah fiksasi atau pemberhentian pada fase itu. Fiksasi pada fase oral berari bahwa selanjutnya sampai dewasa terdapat tuntutan-tuntutan akan pemuasan oral yang tak cocok dengan umur.

2. Teori Interpersonal
Memandang gangguan seksual sebagai manifestasi kekacauan hubungan anatara manusia yang dinyatakan dalam bidang seksual. Teori kebudayaan menganggap bahwa kepercayaan, adat istiadat, dan norma yang khas bagi suatu masyarakat tercermin dalam psikologi dan psikopatologi seseorang, juga dalam bidang seksual. Teori adaptasi mengatakan bahwa gangguan seksual ialah akibat ketakutan terhadap hubungan heteroseksual, bahwa ketakutan ini timbul karena pengalaman hidup yang jelek. Perilaku seksual yang patologik merupakan adaptasi pada ketakutan ini. Pendekatan lain terhadap perilaku seksual ialah penelitian sosiologik mengenai praktik seksual pria dan wanita, seperti telah dilakukan di Amerika Serikat oleh Kinsey.

3. Teori Biologis
Beberapa faktor organik telah diimplikasikan dalam etiologi dalam parafilia. Hal ini mencakup abnormalitas dalam sistem limbik otak, epilepsi lobus temporal, tumor lobus temporal, dan kadar androgen abnormal (Brarford dan McLean, 1984).

4. Teori Psikoanalitik
Pendekatan psikoanalitik mendefinisikan parafilia sebagai seseorang yang telah gagal dalam proses perkembangan normal ke arah penilaian heteroseksual (Abel, 1989). Hal ini terjadi saat individu tersebut gagal memecahkan krisis oedipal, dengan demikian mempertahankan perasaan-perasaan seksual pada orangtua yang berlawanan jenis kelamin dengan dirinya. Hal ini menghasilkan ansietas yang sangat memandu individu untuk mencari kepuasaan seksual dengan cara memberikan suatu ”pengertian yang aman” untuk orangtua (Becker dan Kovoussi, 1988).

Seksualitas Normal dan Penyesuaian Seks yang Sehat
Normal dalam hal ini diartikan sehat atau tidak patologik dalam hal fungsi keseluruhan. Perilaku seksual yang normal ialah yang dapat menyesuaikan diri, bukan saja dengan tuntutan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan individu mengenai kebahagiaan dan pertumbuhan, yaitu perwujudan diri sendiri atau peningkatan kemampuan individu untuk menegmbangkan kepribadinnya menjadi lebih baik.
Penyesuaian diri seksual yang sehat ialah kemampuan memperoleh penagalaman seksual tanpa rasa takut dan salah, jatuh cinta pada waktu yang cocok dan menikah dengan partner yang dipilihnya serta mempertahankan rasa cinta kasih dan daya tarik seksual terhadap partner-nya. Partner-ya itu tidak mempunyai gangguan atau kesukaran yang serius yang dapat mengganggu, merusak atau meniadakan suatu hubungan bahagia.

1. Rentang Respon
Para pakar yang mendalami masalah seksual tidak setuju dengan tipe perilaku seksual yang disebut ”normal”. Ekspresi seksual merupakan rentang adaptif dan maladaptif.
Respon Adaptif
Respon Maladaptif
Perilaku seksual yang memuaskan dengan menghargai pihak lain
Gangguan perilaku seksual karena kecemasan yang disebabkan oleh penilaian pribadi atau masyarakat
Disfungsi penampilan seksual
Perilaku seksual yang berbahaya, tidak dilakukan di tempat tertutup atau tidak dilakukan antara orang dewasa


2. Rentang Perilaku Seksual
Respon seksual yang paling adaptif terlihat dari perilaku yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Terjadinya antara dua orang dewasa.
2) Memberikan kepuasan timbal balik bagi pihak yang terlibat.
3) Tidak membahayakan kedua belah pihak baik secara psikologis maupun fisik
4) Tidak ada paksaan.
5) Tidak dilakukan di tempat umum.
Respon perilaku seksual maladaptif meliputi perilaku yang tidak memenuhi satu atau lebih kriteria yang diuraikan terdahulu.

Tingkatan Respon Faaliyah Seksual
Pada pria dan wanita normal terdapat tingkat-tingkat perangsangan seksual dengan masing-masing tingkat disertai perubahan-perubahan faaliah yang khas.
1) Tingkat 1 (perangsangan):
Ditimbulkan oleh rangsangan psikologik (fantasi, kehadiran objek cinta) atau rangsangan faaliah (usapan, kecupan) atau gabungan keduanya. Terjadilah ereksi pada pria dan lubrikasi (pelumasan lendir) vaginal, keduanya dalam waktu 10 detik sejak rangsangan efektif dimulai. Puting susu menjadi tegang, seperti pada wanita. Klitoris menjadi keras dan bengkak serta labia mayora dan minora menjadi tebal. Fase perangsangan dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam.

2) Tingkat 2 (dataran):
Bila rangsangan berlangsung terus, testis menjadi lebih besar 50% dan terangkat, seperti bagian bawah vagina mengecil (dikenal sebagai ”panggung orgasmik”, ”orgasmic platform”. Klitoris terangkat dan masuk ke belakang sismfisis pubis sehingga tidak mudah dicapai. Buah dada wanita bertambah besar 25%. Timbul gerakan-gerakan volunter kelompok-kelompok otot besar. Fase dataran berlangsung 30 detik sampai beberapa menit.

3) Tingkat 3 (orgasme):
Pada pria orgasme timbul sebagai ”reflek bersin” yang tidak dapat ditahan dan diikuti dengan penyemprotan sperma. Terjadi 4-5 kali spasme ritmik pada prostat, vesika, seminalis, vas deferens, dan uretra dalam interval 0,8 detik. Pada wanita terjadi 3-12 kali kontraksi ”panggung orgasmik” dan uterus berkontraksi secara tetanik yang terjadi dari fundus ke servix dengan interval 0,8 detik.
Pada kedua seks timbul kontraksi involunter pada sfinkter ani interna dan eksterna. Terdapat juga gerakan-gerakan volunter dan involunter pada kelompok otot besar, termasuk otot muka (grimas) dan spasme karpopedal. Tekanan darah naik dengan 20-40 mm (sistolik dan diastolik) dan denyutan jantung meningkat sampai 120-160 per menit. Orgasme berlangsung 3-15 detik dengan kesadaran yang sedikit berkabut.
Kemampuan orgasme pada pria paling tinggi pada kira-kira umur 18 tahun (6-8 kali orgasme dalam waktu 24 jam) dan pada wanita sekitar umur 35 tahun terutama sesudah melahirkan anak (mungkin karena berkurangnya hambatan psikologik). Pada pria sesudah berumur 30 tahun sering kemampuan orgasme menjadi satu kali dalam 24 jam.
Orgasme merupakan betul-betul suatu pengalaman psikofisiologik dengan perasaan subjektif mengenai suatu puncak reaksi fisik terhadap rangsangan seksual dan dengan suatu masa singkat pembebasan fisik dari pembendungan pembuluh darah dan ketegangan otot yang tertimbun sewaktu fase.
Orgasme pada wanita sama saja, tidak ada hubungan dengan cara dan daerah rangsangan. Ternyata orgasme vaginal tidak berbeda dari orgasme klitoris. Secara anatomik dan fisiologik hanya terdapat satu macam orgasme, yaitu, kontraksi ritmik pada sepertiga bagian bawah vagina.
Kekuatan nafsu seksual Sangat bervariasi menurut umur, jenis kelamin, dan keadaan individu, pada pria dewasa yang normal biasanya dua atau tiga kali seminggu, wanita mempunyai potensi orgasme yang lebih besar.

4) Tingkat 4 (resolusi):
Dalam fase penyelesaian atau resolusi (resolution) terjadi pengaliran darah ke luar dari genitalia sehingga badan kembali ke dalam keadaan istirahat. Jika terjadi orgasme, maka resolusi cepat, jika tidak, maka resolusi berlangsung 2-4 jam dengan rasa nyeri pada genitalia dan iritabilitas.
Resolusi yang berhasil pada kedua sex ditandai dengan perasaan sejahtera, senang dan lega serta reaksi pengeluaran keringat di seluruh badan.
Periode refrakter: sesudah orgasme, pria mengalami periode refrakter selama beberapa menit sampai berjam-jam lamanya. Selama masa ini ia tidak dapat dirangsang untuk orgasme lagi. Periode refrakter bertambah panjang dengan bertambahnya usia.
Pada wanita tidak terdapat periode refrakter, sehingga wanita mampu mencapai orgasme ganda berturut-turut. Beberapa wanita mencapai 20 sampai 30 orgasme bila rangsangan berlangsung terus.
Sumber:
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama

Tidak ada komentar: